PRAKTIK BUDIDAYA DAN PASARKAN SAYURAN
Salah satu kompetensi keahlian yang dimiliki oleh SMK Negeri 1 Brang Ene adalah Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH). Kompetensi keahlian ATPH berkomitmen untuk mempersiapkan peserta didik menjadi tenaga terampil dalam bidang pertanian dan pengolahan hasil pertanian, serta mampu menjadi wirausahawan yang sukses. Peserta didik kompetensi keahlian ATPH belajar menanam tanaman, baik sayuran, buah, palawija, dan lain sebagainya. Tidak hanya belajar untuk menanam, merawat, dan memanen hasil pertanian, peserta didik juga belajar untuk mengemas dan memasarkan hasil panen tanamannya.
Hal ini sejalan dengan mata pelajaran Pendidikan Produk Kreatif dan Kewirausahaan (PKK). Beberapa sayuran yang ditanam oleh siswa kompetensi keahlian ATPH SMK Negeri 1 Brang Ene yaitu Terong lalapan, terong panjang ungu dan hijau, cabai rawit, timun, melon, labu madu, pare, dan kacang koro(komak). Proses budidaya sayuran tersebut memerlukan waktu kurang lebih 70 HST, mulai dari menyemai benih, persiapan lahan, pemeliharaan, dan pemanenan. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok bertanggung jawab atas 1 bedeng tanaman yang ditanam.
Pemanenan sayuran dilakukan pada Kamis (07/04/2022) pagi. Sayuran yang telah dipanen kemudian dikemas dengan kemasan yang menarik, lengkap dengan label produk bertuliskan “Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH) SMK Negeri 1 Brang Ene”. Proses pemanenan dilakukan oleh peserta didik kompetensi keahlian ATPH dengan pendampingan dari salah satu guru Produktif, Ibu Rosdiana, S.Pd. “Melalui pelajaran Produktif ATPH, peserta didik dapat mengelola dan memasarkan hasil pertanian. Selain itu, mereka juga dapat menganalisa biaya usaha tani dan menyusun laporan keuangan sehingga dapat menganalisis laba dan rugi,” ujar Rosdiana. Seminggu sebelum panen, peserta didik melakukan survey harga sayuran di pasar dengan harapan saat menjual sayur hasil panennya sesuai dengan harga di pasaran. Pemasaran sayuran dilakukan di lingkungan SMK Negeri 1 Brang Ene dan lingkungan rumah peserta didik. Sebelum panen peserta didik juga membuat media promosi yang dibagikan di Whatsapp dan Instagram pribadi milik peserta didik. Media promosi ini cukup efektif, banyak tetangga dan teman peserta didik yang membeli. Hasil penjualan sayuran dibagi dengan presentase yang berbeda, 70% untuk peserta didik dan 30% untuk Unit Produksi kompetensi keahlian ATPH yang nantinya akan dibelanjakan untuk bahan praktik berikutnya. Titin salah satu anggota kelompok yang berhasil menjual terong dengan jumlah terbanyak, menyampaikan bahwa kelompoknya kompak melakukan perawatan tanaman sehingga hasil panen banyak, bagus, dan tidak dimakan hama tanaman. “Kami kompak merawat sayur yang ditanam sehingga hasil panennya bagus dan tidak dimakan hama. Kami juga memasarkan hasil panen sayur melalui Whatsapp(WA) dan menjualnya dilingkungan sekolah serta sekitar sekolah, ujarnya. Melalui kegiatan pemasaran hasil pertanian, peserta didik belajar berwirausaha dengan mengelola hasil pertanian, menjual, sampai menyusun laporan keuangan. Peserta didik akan lebih mendalami kompetensi keahlian yang dipelajari.